Aksara Jawa Kita

Hanacaraka: 20 Aksara Jawa dan Artinya

Hanacaraka adalah nama untuk kumpulan aksara dasar dalam aksara Jawa. Namanya diambil dari lima aksara pertama: ha, na, ca, ra, ka. Seluruhnya ada dua puluh aksara, dan di sebagian daerah namanya diucapkan honocoroko atau aksoro jowo.

Hanacaraka, 20 aksara Jawa dan kisahnya

Dua puluh aksara inilah fondasi dari seluruh sistem tulisan Jawa. Setiap aksara sudah membawa bunyi vokal a, sehingga ꦏ dibaca ka, bukan k. Untuk mengubah vokalnya dipakai sandhangan, dan untuk menyambung konsonan dipakai pasangan — tetapi semuanya berangkat dari kedua puluh aksara ini.

Dua puluh aksara nglegena

Aksara dasar disebut aksara nglegena, artinya aksara yang masih “telanjang” — belum diberi sandhangan apa pun. Berikut kedua puluhnya.

ꦲha
ꦤna
ꦕca
ꦫra
ꦏka
ꦢda
ꦠta
ꦱsa
ꦮwa
ꦭla
ꦥpa
ꦝdha
ꦗja
ꦪya
ꦚnya
ꦩma
ꦒga
ꦧba
ꦛtha
ꦔnga
Aksara Nama / baca Unicode
ꦲ ha U+A9B2
ꦤ na U+A9A4
ꦕ ca U+A995
ꦫ ra U+A9AB
ꦏ ka U+A98F
ꦢ da U+A9A2
ꦠ ta U+A9A0
ꦱ sa U+A9B1
ꦮ wa U+A9AE
ꦭ la U+A9AD
ꦥ pa U+A9A5
ꦝ dha U+A99D
ꦗ ja U+A997
ꦪ ya U+A9AA
ꦚ nya U+A99A
ꦩ ma U+A9A9
ꦒ ga U+A992
ꦧ ba U+A9A7
ꦛ tha U+A99B
ꦔ nga U+A994

Aksara yang menyimpan cerita

Yang membuat hanacaraka istimewa bukan hanya bentuknya, tetapi urutannya. Kedua puluh aksara ini tersusun membentuk sebuah kalimat utuh — sebuah kisah tentang kesetiaan, menurut legenda Aji Saka.

Menurut cerita, Aji Saka datang ke tanah Jawa bersama dua abdi setia, Dora dan Sembada. Ia meninggalkan Sembada untuk menjaga sebuah keris pusaka, dengan pesan bahwa keris itu hanya boleh diserahkan kepada dirinya sendiri. Ketika kemudian Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil keris itu, Sembada menolak menyerahkannya — ia tetap setia pada perintah semula. Keduanya bertarung, sama-sama kuat, dan keduanya gugur. Untuk mengenang kesetiaan mereka, Aji Saka menciptakan aksara ini.

Kisah itu terbaca langsung dalam empat baris aksara:

Grid 20 aksara nglegena hanacaraka lengkap
ha na ca ra ka
ꦲꦤꦕꦫꦏ
Ana utusan — ada dua utusan.

da ta sa wa la
ꦢꦠꦱꦮꦭ
Padha kekerengan — keduanya berselisih.

pa dha ja ya nya
ꦥꦝꦗꦪꦚ
Padha digdayane — sama-sama saktinya.

ma ga ba tha nga
ꦩꦒꦧꦛꦔ
Padha dadi bathange — keduanya menjadi jenazah.

Honocoroko, aksoro jowo, carakan

Anda mungkin menemukan nama yang berbeda-beda untuk hal yang sama. Semuanya merujuk pada aksara yang sama:

  • Hanacaraka — nama baku, dari lima aksara pertama.
  • Honocoroko — cara pengucapan yang umum di sebagian daerah, karena vokal a dalam bahasa Jawa sering dibaca mendekati o.
  • Aksoro jowo — pengucapan sehari-hari untuk “aksara Jawa”.
  • Carakan ꦕꦫꦏꦤ꧀ — istilah lain untuk sistem aksara ini.

Dari aksara dasar ke kata utuh

Kedua puluh aksara ini baru menjadi kata ketika digabung dengan dua hal lain:

Untuk melihat semuanya dalam satu gambaran utuh, kunjungi halaman aksara Jawa lengkap.

Coba tulis dengan hanacaraka

Ketik nama atau kata apa pun, dan lihat bagaimana kedua puluh aksara ini membentuknya.

0 karakter Contoh:
Pengaturan lanjutan

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu hanacaraka?

Hanacaraka adalah nama untuk dua puluh aksara dasar dalam aksara Jawa. Namanya diambil dari lima aksara pertama: ha, na, ca, ra, ka. Aksara ini juga disebut carakan, dan di sebagian daerah diucapkan honocoroko atau aksoro jowo.

Ada berapa aksara dalam hanacaraka?

Ada dua puluh aksara dasar (nglegena). Di luar itu masih ada aksara swara, aksara murda, aksara rekan, serta berbagai sandhangan dan pasangan, tetapi inti hanacaraka adalah kedua puluh aksara dasar ini.

Kenapa disebut honocoroko, bukan hanacaraka?

Keduanya sama. Dalam bahasa Jawa, vokal a sering diucapkan mendekati bunyi o, sehingga hanacaraka terdengar seperti honocoroko. Penulisan bakunya tetap hanacaraka.

Apa arti urutan aksara hanacaraka?

Menurut legenda Aji Saka, urutan kedua puluh aksara membentuk kalimat yang mengisahkan dua abdi setia, Dora dan Sembada, yang gugur karena sama-sama memegang teguh perintah. Empat barisnya berarti: ada utusan, keduanya berselisih, sama-sama sakti, dan keduanya gugur.

Apakah hasil konverter selalu benar?

Alat ini mengikuti kaidah penulisan yang terdokumentasi, tetapi sebagian kata dapat ditulis dengan lebih dari satu cara yang sama-sama sah, terutama nama diri dan kata serapan. Untuk keperluan resmi, mintalah pemeriksaan dari guru atau ahli bahasa Jawa.