Aksara Jawa Kita

Aksara Jawa Lengkap

Halaman ini mengumpulkan seluruh bagian aksara Jawa dalam satu tempat: dua puluh aksara dasar, pasangan, sandhangan, aksara swara, dan angka Jawa. Tiap bagian dijelaskan secara ringkas di sini, dengan tautan ke halaman lengkapnya bila Anda ingin mendalami satu topik.

Kalau Anda baru mengenal aksara Jawa, bacalah dari atas ke bawah — urutannya sengaja disusun dari yang paling dasar. Kalau Anda sudah tahu dan hanya mencari satu bagian, lompat saja lewat tautan di tiap bagian.

Dan kalau Anda hanya ingin mengubah tulisan sekarang juga, alat konversi ada di bawah halaman ini.

1. Aksara Nglegena — dua puluh aksara dasar

Aksara nglegena adalah fondasi dari semuanya. Dua puluh aksara ini masing-masing sudah membawa bunyi vokal a, jadi ꦏ dibaca ka, bukan k.

Yang membuat urutannya istimewa: kedua puluh aksara ini sebenarnya membentuk sebuah kalimat, yang menurut legenda mengisahkan dua abdi setia Aji Saka. Dibaca empat baris:

ha na ca ra ka
ꦲꦤꦕꦫꦏ
“Ana utusan” — ada dua utusan.

da ta sa wa la
ꦢꦠꦱꦮꦭ
“Padha kekerengan” — keduanya berselisih.

pa dha ja ya nya
ꦥꦝꦗꦪꦚ
“Padha digdayane” — sama-sama saktinya.

ma ga ba tha nga
ꦩꦒꦧꦛꦔ
“Padha dadi bathange” — keduanya menjadi jenazah.

Berikut kedua puluh aksara beserta bacaan Latin dan kode Unicode-nya.

ꦲha
ꦤna
ꦕca
ꦫra
ꦏka
ꦢda
ꦠta
ꦱsa
ꦮwa
ꦭla
ꦥpa
ꦝdha
ꦗja
ꦪya
ꦚnya
ꦩma
ꦒga
ꦧba
ꦛtha
ꦔnga

Baca selengkapnya: Hanacaraka — nama, cara baca, dan sejarah tiap aksara →

2. Pasangan — menyambung konsonan

Masalah pertama yang muncul begitu Anda menulis kata nyata: apa yang terjadi kalau sebuah suku kata berakhir dengan konsonan, lalu disambung suku kata berikutnya? Jawabannya adalah pasangan.

Pasangan dibentuk dengan pangkon, tanda yang mematikan vokal aksara sebelumnya. Aksara berikutnya lalu ditulis menempel — di bawah atau di samping. Contohnya kata kanca (teman):

kanca
ꦏꦤ꧀ꦕ
Suku kan berakhir dengan n. Pangkon mematikan vokal pada aksara na, lalu aksara ca menjadi pasangan.

mangan
ꦩꦔꦤ꧀
Bunyi ng di tengah ditulis dengan aksara nga, lalu n di akhir dimatikan dengan pangkon.

Setiap aksara punya bentuk pasangannya masing-masing, dan sebagian ditulis di bawah aksara induk, sebagian di sampingnya. Daftar lengkap kedua puluh pasangan ada di halaman khususnya.

Baca selengkapnya: Pasangan Aksara Jawa lengkap dan contohnya →

3. Sandhangan — mengubah vokal dan menutup suku kata

Tanpa sandhangan, aksara Jawa hanya bisa menuliskan kata yang seluruh suku katanya bervokal a. Sandhangan adalah tanda yang mengubah vokal bawaan itu, atau menutup suku kata dengan konsonan. Ada tiga kelompok:

  • Sandhangan swara — mengganti vokal menjadi i, u, é, o, atau ê. Misalnya siti → ꦱꦶꦠꦶ, guru → ꦒꦸꦫꦸ.
  • Sandhangan panyigeg wanda — menutup suku kata dengan h, r, atau ng. Misalnya loro → ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ.
  • Sandhangan wyanjana — menyisipkan bunyi ra atau ya di tengah suku kata.

Bagian inilah yang paling sering membingungkan pemula, terutama perbedaan antara pepet dan taling untuk huruf “e”. Penjelasan tiap tanda, beserta contoh dan kesalahan umum, ada di halaman khususnya.

Baca selengkapnya: Sandhangan Aksara Jawa lengkap →

4. Aksara swara, murda, dan rekan

Di luar kedua puluh aksara dasar, ada beberapa kelompok khusus:

  • Aksara swara — lima aksara untuk vokal mandiri (a, i, u, e, o), dipakai pada awal kata, terutama nama diri dan kata serapan.
  • Aksara murda — bentuk “kapital” yang dipakai pada awal nama orang, tempat, atau gelar terhormat.
  • Aksara rekan — untuk menuliskan bunyi serapan asing seperti f, v, dan z, ditandai dengan cecak telu.

Baca selengkapnya: Aksara Swara dan cara pakainya →

5. Angka Jawa

Aksara Jawa punya angkanya sendiri, dari 0 sampai 9. Karena bentuknya mirip beberapa aksara, angka biasanya diapit tanda pada pangkat agar tidak tertukar dengan huruf.

꧐0
꧑1
꧒2
꧓3
꧔4
꧕5
꧖6
꧗7
꧘8
꧙9

Satu kata, semua bagian sekaligus

Untuk melihat bagaimana semua bagian ini bekerja bersama, perhatikan kata nulis (menulis):

nulis
ꦤꦸꦭꦶꦱ꧀
Aksara na dengan sandhangan suku (u), aksara la dengan sandhangan wulu (i), lalu aksara sa yang vokalnya dimatikan pangkon karena berada di akhir kata.

Coba langsung

Ketik kata atau kalimat apa pun. Hasilnya muncul seketika, lengkap dengan pasangan dan sandhangan yang sesuai.

0 karakter Contoh:
Pengaturan lanjutan

Pertanyaan yang sering muncul

Apa saja bagian aksara Jawa yang lengkap?

Secara umum ada lima bagian: aksara nglegena (20 aksara dasar), pasangan, sandhangan, aksara swara dan murda, serta angka Jawa. Halaman ini merangkum kelimanya, dengan tautan ke penjelasan mendalam tiap bagian.

Apa beda aksara nglegena dengan pasangan?

Aksara nglegena adalah bentuk dasar sebuah aksara yang berdiri sendiri. Pasangan adalah bentuk aksara yang ditulis menempel pada aksara sebelumnya, dipakai ketika sebuah suku kata berakhir dengan konsonan dan disambung suku kata berikutnya.

Berapa jumlah aksara Jawa seluruhnya?

Aksara dasar (nglegena) berjumlah dua puluh. Di luar itu ada aksara swara, aksara murda, aksara rekan, serta berbagai sandhangan dan tanda baca, sehingga totalnya lebih banyak tergantung bagaimana cara menghitungnya.

Apakah hasil konverter di halaman ini selalu benar?

Alat ini mengikuti kaidah penulisan yang terdokumentasi, tetapi sebagian kata dapat ditulis dengan lebih dari satu cara yang sama-sama sah, terutama nama diri dan kata serapan. Untuk keperluan resmi, mintalah pemeriksaan dari guru atau ahli bahasa Jawa.

Kenapa hasilnya tampil sebagai kotak kosong?

Perangkat Anda belum memiliki fon aksara Jawa. Situs ini sudah menyertakan fonnya, jadi di halaman ini tampilannya seharusnya benar. Masalah muncul kalau Anda menyalin hasilnya ke aplikasi lain yang tidak punya fon tersebut.